Renungan Malam

By hanan2jahid - December 06, 2005

Pernahkah kita merasakan kegelisahan jiwa yang sangat? Mungkin pernah. Bahkan lebih dari itu pun pernah kita alami.
Suatu malam yang senyap, saya terbangun dari lelapnya tidur. Peristiwa itu begitu menyisakan rasa yang tak terungkap. Saat terbangun, nafas ini berhenti. Antara sadar dan tidak. Saya bisa merasakan kondisi sekitar, sunyi, gelap, namun tetap saja tak bisa bernafas. Berapa lama berhenti bernafas saya tak tahu. Seakan-akan ada sesuatu yang menarik kaki dan tangan, seperti sesuatu yang mau pergi dari raga ini. Saat itu saya benar-benar ketakutan, berfikir apakah ini ajal saya? Padahal masih banyak hal yang belum dilakukan. Semua konsep tentang mati syahid, jihad, dan kematian terbang begitu saja. Ternyata saya takut mati?

Lalu kondisi pun kembali seperti semula. Namun setelah itu perenungan tentang perjalanan hidup yang sudah berpuluh tahun dijalani hadir di kepala. Betapa banyak ternyata hal yang sia-sia telah saya lakukan. Ketidakmaksimalan dan ketidakoptimalan masih menjadi mayoritas dalam hidup ini. Teringat kembali kisah masa lalu yang begitu membekas dalam hidup. Kondisi jiwa yang dulu begitu rapuh. Kehidupan di masa lalu, penuh dengan noda dan dosa. Tak akan kembali saat-saat yang pernah terjadi. Penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Air mata itu menetes, mengalir, hangat, seakan membersihkan hati yang ternoda.

Terkadang lisan ini berkata-kata, namun sungguh, Allah tidak menyukai perkataan yang tidak diiringi dengan perbuatan. Ingin rasanya waktu berputar kembali hingga dapat saya perbaiki seluruh hal yang pernah terjadi, tapi itu mustahil bukan? Hanya waktu yang tersisa yang bisa saya perbaiki Masih ada kesempatan. Masih ada ruang hati yang jernih. Masih ada harapan. Harapan memang menjadikan seseorang menjadi lebih kuat, karena saya yakin Allah sangat menyayangi hamba-hambaNya.

Sungguh, setiap langkah kita akan indah jika kita tapaki dengan kebaikan dan keteguhan berada di jalanNya. Tak ada hal terindah selain mendapat ridhoNya. Tak ada keindahan berukhuwah selain saling mendoakan dan mengingatkan. Wilayah bumi manapun tak akan pernah mampu memuliakan kita, hanya iman dan amal yang dapat memuliakan kita.

Created by : Hanan2jahid, 061205, dalam sebuah perenungan

NB : Maafkan segala kesalahanku. Lomba kita belum selesai kan? :)

  • Share:

You Might Also Like

5 comments

  1. Hanan, catatanmu buat saya juga merenungi diri.. saat ini agenda memburu syahid seolah pergi dari hati dan minda. Catatanmu juga buat saya teringin mengenali kamu dengan lebih detail.. salam ukhuwah dari saya... Inqilaab @ Budak Baik @ Maryam

    ReplyDelete
  2. silahkan mbak inqilab

    ReplyDelete
  3. Anonymous11:41 AM

    Subhanallah.. tulisan indah mengetarkan hati..

    Sungguh kegelisaan itu juga acapkali saya rasakan... Tak terasa air matapun berlinang kala diajak menyelami arti sebuah kematian...

    Saya pernah merasakan pengalaman yang sama. Di suatu malam, tiba-tiba nafas serasa sesak di dada. Bahkan saya tak kuasa menarik dan menghembuskan sisa udara yang ada di kerongkongan..

    Saat itu, ritme jantungpun tak lagi teratur; ditambah lagi iringan detak jantung yang semakin melambat dan melemah.. Masya Allah...

    Malam itu pandanganku semakin kabur.. Tubuh tak lagi kuasa kugerakkan; seolah jutaan orang tengah membelenggu dan menimpaku..

    Oh tidak,
    seketika itu saya berfikir, mungkin di malam ini telah tiba masanya.. Ajalkan menyapa.... :(

    Alhamdulillah.., ternyata kondisi itu dapat kembali normal. Kupetik hikmah bahwa kejadian tersebut menjadi peringatan.. Semoga kejadian tersebut memang benar menjadi peringatan dan pelajaran buatku. Bahwasanya (ternyata) ajal bisa datang kapan dan dimanapun kita berada. Siap atau tidak.

    Astaghfirullahul'azhiim.., ternyata saat itu ketakutan masih menggerogoti hatiku.. Rasa bersalah atas kelalaian selama ini, membuatku tak "ikhlas" manakala ajal memang datang menjemput saat itu.

    Bulir airmatapun mengalir, membasahi hati yang linglung...

    Astagfirullah.. Seketika kulabuhkan segala pengharapan dan rasa takut kepada Allah dihamparan sajadah disudut kamarku. Kuberharap semoga Allah mengampunkan segala dosa, kelalaian dan kezholiman yang kuperbuat selama ini... dan moga kuselalu terjaga di dalam kesholehan yang mulia... Hingga kemudian, jika memang telah tiba pada masanya, kusiap dengan penuh kerelaan tuk menghadap-Nya, amin.

    ***

    Itulah sedikit kisah saya saat mengalami kejadian serupa.

    Mustinya, tak sepantasnya keikhlasan hati -tuk menerima takdir-Nya- hilang di setiap asa dalam hidup kita. Begitu pula menghadapi kematian.. Seharusnya kita harus siap kapanpun dan dimanapun. Sebab bagaimanapun juga, ia akan tetap menyapa...

    Sakitnya kematian saat hembusan nafas terakhir jua kan kita rasakan.. Tak perlu takut; yang terpenting adalah persiapan kita dalam menghadapinya..

    Dulu teman pernah berujar bahwa tiada sempurna iman seseorang jika ia takut akan kematian. Kupikir, ada benarnya. Bukankah Rasulullah saw telah mengkhawatirkan bahwa di akhir zaman akan 'bertebaran' penyakit "wahhan"? Itulah penyakit yang sangat dirisaukan Rasulullah saw manakala menimpa ummatnya. Kita harus waspada terhadap penyakit ini, yaitu cinta dunia dan takut mati.. (Astagfirullah.., ampunkan kami ya Rabb..!)

    ***

    Ukhti benar..., lomba itu belum selesai... Mumpung ada waktu, mari menyibukkan diri menuju takwa...!

    Semoga Allah memudahkan kita dalam menapaki hidup menuju syurga dalam ridho-Nya, amin. Do'akan saudaramu ukhti..!

    ****

    Tetap berdakwah, tegakkan Islam (Khilafah Islamiyah) di bumi Allah..! Allahuakbar..!! (Frenky Suseno Manik)

    Semoga komentar ini dapat menjadi pelajaran bagi saya dan kita semua... Sebab, tiada ukhuwah jika tiada saling mengingatkan karena-Nya.

    ReplyDelete
  4. Anonymous5:41 PM

    Hanya Cinta dan Rahmat-Nya yang akan menyelamatkan kita.

    ReplyDelete
  5. Anonymous5:08 PM

    Ya, saya pun pernah mengalami hal yang serupa. Terasa bahwa bumi yang luas ini seketika menjadi sempit, tatkala mengingat jejak langkah kita yang penuh dengan kezaliman dan kebodohan. Namun, ketika kembali sadar, bahwa alur hidup kita tidak sepenuhnya berada dalam kekuasaan kita, maka kita akan kembali menyadari bahwa sesuatu yang kita pandang "buruk" atau "noda" di masa lalu, mungkin didalamnya juga menyimpan hikmah berbagai kebaikan-Nya yang tidak pernah kita sadari sebelumnya.

    Kita seringkali memandang sesuatu yang baik dan buruk hanya dari sudut pandang kita sendiri, sehingga kita tidak dapat melihat kedalaman hikmah yang tersembunyi dibaliknya. Coba, kita telaah lagi bagaimana kisah Al-Quran yang menceritakan Nabi Musa AS yang "belajar" kedalaman Pengetahuan Allah SWT melalui perantara Nabi Khidir AS. Tentunya jika kita hanya menggunakan perasaan atau pun rasionalitas kita sebagai manusia, maka kita akan jauh lebih susah untuk memahami kedalaman makna dan hikmah dari kisah tersebut.

    Jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan akan masa lalu yang penuh dengan "noda", namun marilah belajar menarik hikmahnya, bahwa justru melalui apa yang anda anggap itu "noda" anda ditarik-Nya untuk semakin mengenal dan memahami-Nya secara lebih dekat. Sehingga anda menjadi sesosok mahluk ciptaan-Nya yang sangat dicintai-Nya. Wallahualambishawab.

    ReplyDelete